Direktur Itu Bersyahadat

Akhirnya, “wanita menyebalkan” dengan tertawanya yang lepas dan bersuara
keras itu mengucapkan dua kalimah syahadat dan memeluk Islam.


Ketika pertama kali mengikuti kelas the Islamic Forum, wanita ini cukup
menyebalkan sebagian peserta. Pasalnya, orangnya seringkali tertawa lepas,
bersuara keras dan terkadang dalam mengekpresikan dirinya secara
blak-blakan. Bahkan tidak jarang di tengah-tengah keseriusan belajar atau
berdiskusi dia tertawa terbahak. Hal ini tentunya bagi sebagian peserta
dianggap kurang sopan.


Theresa, demikian dia mengenalkan dirinya, sangat kritis dan agresif dalam
menyampaikan pandangan-pandangannya.
“From what I’ve learned I do believe
Islam is the best religion”, katanya suatu ketika. “but why women can not
express themselves freely as men?, lanjutnya.


Dalam sebuah diskusi tentang takdir dan bencana alam, tiba-tiba Theresa
menyelah “wait..wait.what? I don’t think God will allow people to suffer”.
Ternyata maksud Theresa adalah bahwa Allah itu Maha Penyayang dan tidak
mungkin akan menjadikan hamba-hambaNya menderita.
Dia menjelaskan bahwa
tidak mungkin bisa disatukan antara sifat Allah Yang Maha Pemurah dan
penyayang dan bencana alam yang terjadi di berbagai tempat.


Biasanya saya memang tidak terlalu merespon secara serius terhadap
pertanyaan atau pernyataan si Theresa tersebut. Saya tahu bahwa dia memang
memiliki kepribadian yang lugas dan apa adanya, dan sangat cenderung untuk
merasionalisasi segala hal. Belakangan saya tahu bahwa Theresa dengan nama
akhir (last name) Gordon, ternyata adalah direktur sebuah rumah sakit swasta
di Manhattan. Kedudukannya itu menjadikannya cukup percaya diri dan berani
dalam mengekspresikan dirinya.


Namun dalam tiga minggu sebelum Ramadan lalu, terjadi perubahan drastis pada
sikap dan cara bertutur kata Theresa. Kalau biasanya tertawa terbahak apa
adanya, dan bahkan tidak ragu-ragu memotong pembicaraan atau
penjelasan-penjelasan saya dalam diskusi-diskusi di kelas, kini dia nampak
lebih kalem dan sopan.
Hingga suatu ketika dia bertanya: “Is it true that
Islam does not allow the women to laugh loudly?” Saya mencoba menjelaskan
kepadanya: “It depends on its context” jawabku.


“Some women or people laugh loudly for no reasons but an expression of bad
attitude. But some others do laugh because that is their nature”, jelasku.


Maksud saya dalam penjelasan tersebut, jangan-jangan Theresa sering tertawa
keras dan apa adanya memang karena tabiatnya. Bukan karena prilaku yang
salah. Kalau memang itu sudah menjadi bagian dari tabiatnya, tentu tidak
mudah merubahanya. Sehingga kalau saya terfokus kepada masalah ketawa,
jangan-jangan dia terpental dan lari dari keinginannya untuk belajar Islam.


Suatu hari Theresa meminta waktu kepada saya setelah kelas. Menurutnya ada
sesuatu yang ingin didiskusikan. Setelah kelas usai saya tetap di tempat
bersama Theresa. “I am sorry Imam” katanya.
“Why and what is the reason for
the apology?”, tanyaku. “I think I’ve been impolite in the class in the
past”, katanya seraya menunduk. “Sister Theresa, I have been teaching in
this class for almost 7 years. Alhamdulillah, I’ve received many people with
many backgrounds. Some people are very quite and some others are the
opposite”, jelasku. “But I always keep in mind that people have different
ways of understanding things and different ways of expressing things”,
lanjutku.


Saya kemudian menjelaskan kepadanya karakter manusia dengan merujuk kepada
para sahabat sebagai contoh. Di antara sahabat-sahabat agung Rasulullah SAW
ada Abu Bakar yang lembut dan bijak, tapi juga ada Umar yang tegas dan penuh
semangat. Ada Utsman yang juga lembut dan sangat bersikap dewasa, tapi juga
ada Ali yang muda tapi tajam dalam pandangan-pandangannya.
“Even between
themselves, they often involved in serious disagreement”, kataku.
Tapi
mereka salaing mamahami dan saling menghormati dalam menyikapi
perbedaan-perbedaan yang ada.


“Do you think I will be able to change?”, tanyanya lagi. Saya berusaha
menjelaskan bahwa memang ada hal-hal yang perlu dirubah dari cara bersikap
dan bertutur kata, dan itu adalah bagian esensial dari ajaran agama Islam.
Tapi di sisi lain, saya ingin menyampaikan bahwa dalam melakukan semua hal
dalam Islam harus ada pertimbangan prioritas.
“I am sure, one day when you
decide to be a Muslim, you will do so”, motivasi saya. “But don’t expect to
change in one day”, lanjutku.


Hampir sejam kami berdialog dengan Theresa. Ternyata umurnya sudah mencapai
kepala 4. Bahkan Theresa adalah seorang janda beranak satu wanita dan sudah
menginjak remaja.


Hari-hari Theresa memang sibuk Sebagai direktur rumah sakit di kota besar
seperti Manhattan, tentu memerlukan kerja keras dan pengabdian yang besar.
Tapi hal itu tidak menjadikan Theresa surut dari belajar Islam. Setiap hari
Sabtu pasti disempatkan datang walaupun terlambat atau hanyak untuk sebagian
waktu belajar.


Sekitar dua minggu sebelum Idul Adha, Theresa datang ke kelas sedikit lebih
awal dan nampak berpakaian rapih. Selama ini biasanya berkerudung untuk
sekedar memenuhi peraturan mesjid, tapi hari itu nampak berpakaian Muslimah
dengan rapih.
“You know what, I’ve decided to convert”, katanya memulai
percakapan pagi itu. “Alhamdulillah. You did not decide it Sister!”, kataku.
“When some one decides to accept Islam, it’s God’s decision”, jelasku.

Beberapa saat kemudian beberapa peserta memasuki ruangan. Saya menyampaikan
kepada mereka bahwa ada berita gembira.
“A good news, Theresa have decided
to be a Muslim today”.
Hampir saja semua peserta yang rata-rata wanita itu
berpaling ke Theresa dan menyalaminya.
“So the big lady will be a Muslim?”,
kata salah seorang peserta. Memang Theresa digelari “big lady” karenanya
sedikit gemuk.


Menjelang shalat Dhuhur, saya meminta Theresa untuk mengambil air wudhu.
Sambil menunggu adzan Dhuhr, saya kembali menjelaskan dasar-dasar islam
secara singkat serta beberapa nasehat kepadanya. Saya juga berpesan agar
kiranya Theresa dapat menggunakan posisinya sebagai direktur rumah sakit
untuk kepentingan Islam. “Insha Allah!”, katanya singkat.


Setelah adzan dikumandangkan saya minta Theresa untuk datang ke ruang utama
masjid. Di hadapan ratusan jama’ah, Theresa mempersaksikan Islamnya: “Laa
ilaaha illa Allah-Muhammadan Rasul Allah”.
Allahu Akbar!


New York, December 24, 2007


M. Syamsi Ali, MA., Lc.

Disadur kembali oleh : Ita Rosita


* Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik “Kabar Dari New York” di www.hidayatullah.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: